NeiYa’s TaLes FRoM ThE dARk sidE

ScReAm wiThouT soUnD..

NeiyA haVe bEeN bLaST

Blog yg selalu aQ impikan…coZ AQ mampu berinteraksi dgn diriQ sendiri…mengeksplore apa yang aQ lihat dan apa yg aQ rasakan…Letupan-letupan yang hadir tiba2 di dalam diriQ yg AQ sendiri tak mampu membendungnya…

Maret 10, 2009 Ditulis oleh Neiya | Uncategorized | | 1 Komentar

Gadis kecil dan saputangan lusuhnya

Gadis itu lusuh dan selalu kotor, setiap pagi selalu kulihat di perempatan lampu merah membawa bass betot yang besarnya melebihi badan mungilnya. Menyanyikan lagu2 yang lagi happening dengan arransement ulang yang semrawutz, aku suka memandanginya tiap berhenti karena lampu merah menyala, dan yang tak pernah aku lupa adalah dia selalu membawa saputangan merah lusuhnya. 1 hari ketika dia ngamen di tempat aku menghentikan motor, aku tak dapat menahan penasaranku untuk bertanya, “ Eh namanya siapa sih dik?” “Retn0 mba’!” jawabnya ramah, duh senyumnya sbenernya manis banget, sayang dia kotor dan lusuh. “Tuh saputangan ga’ pernah absen ya?” tanyaku lagi, “Ini di kasih ibu mba’, buat jagain aku.” Belum sempat aku ber tanya lagi, lampu hijau sudah menyala, bergegas aku tancap gas.

Walaupun aku masih penasaran akan jawaban gadis itu, aku harus menunda banyak sekali pertanyaan di kepalaku, sayangnya pulang kerja aku tak bisa melewati jalan itu karena jalan itu one way, namun aku bertekad besok harus ketemu lagi menuntaskan rasa ingin tahuku.

Esoknya,ke tika aku melewati jalan itu dan berhenti di lampu merah seperti biasa, kulihat Retno sudah tidak lagi membawa bass betotnya lagi, tapi menggendong seorang anak kecil dengan gendongan yang tak kalah lusuhnya. Astaga!! Apa itu adiknya..atau? segera aku tanya ketika dia sampai di tempatku, “ Retn0, itu adiknya ya?” “Bukan mba’, ini aku nyewa dari ibu itu tuh yang duduk di trotoar, 1 jamnya 1500!” whatZ?!! saking bengongnya aku tak menyadari lampu hijau sudah menyala dan klakson kendaraan di belakangku menyalak riuh.

aku sudah agak melupakan peristiwa itu ketika sabtu pagi yang notabene aku libur kerja , karena suntuk dan bosan terbelenggu dinding (huiks…kaya orang bener aje ) aku memutuskan untuk jalan2 kemanapun motor butut setiaku membawaku, entah mengapa stang motorku seperti tergerak ke perempatan lampu merah tempat Retno biasa mangkal. Kulihat dia masih dengan riang ngamen, tak lupa bass bet0tnya ditenteng dengan wajah cerah. Aku membelokkan motorku ke kiri yang bebas jalan dan memarkirnya di gedung sebuah bank yang ada di situ.

Dengan berjalan kaki aku kembali ke tempat itu, tapi…ya Allah?!! Terdengar bunyi mendecit dan suara dentuman keras..seketika suasana riuh dan kacau balau, kecelakaan!!!
Dengan perasaan tak karuan aku berlari kearah kerumunan, korban di angkat ke bahu jalan, aku berusaha menyeruak di antara kerumunan 0rang2 dan Astagfirullah..Retno!!! Kepalanya penuh darah, masih mendekap saputangan merahnya, dia masih merintih tak jelas..

Reflek aku sentuh lehernya yang juga penuh darah. Ada denyut lemah, panik aku merogoh kantong celanaku mencari handphone dan segera menelepon ambulan. Tapi… ambulan belum sampai dan polisi sibuk sendiri di TKP, kulihat Retno tak bergerak, kusentuh tubuhnya dingin, aku gemetar, air mataku meleleh tanpa sadar..

Kuraba lehernya lagi.. denyutnya menghilang, takut lehernya patah aku tak berani gegabah memberi pertolongan pertama..dan ketika ambulan datang,Retn0 telah tiada..

Aku duduk terhenyak ketika ambulan yang membawa Retno meraungkan sirine pergi dari TKP. G0ntai aku melangkah menjauh dari hingar-bingar dengan air mata yang terus meleleh tak bisa kust0p . Ternyata saputangan itu gagal menjaga Retno .

Haruskah ada Retno-Retno yang lain lagi? Yang terkapar di jalan raya yang buas dan berbahaya? Sampai kapan itu berhenti? Kenapa kita-kita tak bisa mencegahnya? Kenapa kota besar seperti surabaya ini masih mengijinkan anak-anak jalanan berkeliaran di lampu-lampu merah seperti itu? Sampai kapan bangsa kita carut-marut seperti ini?

Maret 5, 2009 Ditulis oleh Neiya | Uncategorized | | & Komentar

Di sudut sebuah RSJ

Dia blum tua untuk se0rang kakek-kakek kecuali rambut putihnya yang memenuhi 1/3 kepalanya. Sdh lama semenjak aku di tugaskan di RSJ ini mengamatinya, sayangnya dia bukan termasuk salah 1 pasien 0bservasiku, jadi aku hanya bisa mengamati dari jauh. Penampilannya selalu rapi jali, dan senyumnya selalu menyejukkan yang memandang..sayang ada yg kurang beres di 0taknya. Suatu pagi, begitu selesai absensi dll sebagainya, aku melihat kakek itu duduk sendirian di bangku taman RSJ. Sempat kutanyakan pada perawatnya, namanya mbah J0y0, keluarganya yang membawa dia kemari…entah kenapa aku tergelitik untuk mendekatinya, pelan aku duduk di sampingnya, dia sama sekali tidak menggubris aku. Mungkinkah katat0nia? tiba-tiba dia berkata-kata se0lah-olah pada dirinya sendiri, ”Kita tidak bisa membahagiakan semua 0rang dalam 1 waktu! Malah kadang-kadang kita juga tidak tahu caranya membahagiakan diri sendiri!’

Setengah kaget aku menunggu dia ngomong lagi. “Lihat saja, duit yang selalu dikira dapat membawa kebahagiaan, nyatanya bisa bikin sengsara juga kan?” Katanya lagi dengan sedikit ketus. Upz! Bukan katatonia! Kucoba berinteraksi dan memancing reaksinya, “Mbah duitnya banyak yaaa??” Bukannya menjawab, dia malah seolah-olah menasehati orang didepannya, “Kamu! Cobalah berdamai dengan diri sendiri dulu, jangan menyerah meskipun susah! Mungkin setelah itu kamu baru bisa membahagiakan semua orang yang ada di dekatmu walaupun hanya dengan senyuman.” Secara tiba-tiba dia menoleh padaku yang masih terbengong seraya berkata, “Bahagia bukan di sini saja.” (menunjuk kepalanya) “Tapi di sini juga!” kali ini sembari menunjuk dadanya. Setelahnya dia meninggalkan aku yang masih terhipnotis oleh kata-katanya barusan.

Bahkan dari mulut orang yang kita anggap gila pun bisa keluar permata. Kenapa kita yang mengangap diri kita waras ini masih suka memaki dan menyakiti orang-orang dengan kata-kata yang tidak pantas? Dan pelajaran yang berharga pun aku dapatkan dari sebuah Rumah Sakit Jiwa.

Februari 14, 2009 Ditulis oleh Neiya | Uncategorized | | & Komentar